Usung Waras Djampi, 3 Mahasiswa UNAIR Raih Juara 3 dan Best Performance di Kompetisi Essay Nasional 

UNAIR NEWS – Mengusung konsep Waras Djampi guna mengurangi angka penyakit tidak menular dan mendukung meningkatnya kesehatan di Indonesia, 3 Mahasiswa UNAIR berhasil meraih juara III sekaligus Best Performance dalam Karya Tulis Essay tingkat Nasional. Mereka adalah Fatih Falah dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Sofia Ainur Rohma dari FKM, dan Desi Rahmadhani dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK). 

Kompetisi tersebut diadakan Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA) dengan bertema “Menggali Potensi Lokal untuk Mewujudkan SDGs di Indonesia Tahun 2030”. Puncak acara dan penentuan pemenang dilaksanakan pada 2 Oktober 2022 melalui zoom meeting. 

Dukung Poin ke 3 SDGs 2030 

Konsep implementasi Waras Djampi berfungsi sebagai pusat pengolahan jamu khusus bagi kesehatan. Waras Djampi hadir sebagai salah satu upaya untuk memadukan budaya dan kesehatan dalam pencegahan maupun pengobatan berbagai masalah kesehatan di Indonesia.  

“Kita sadar bahwa angka derajat kesehatan di Indonesia masih perlu ditingkatkan lagi, segala bentuk upaya pencegahan dan pengobatan harus terus digencarkan untuk menciptakan perilaku di masyarakat dan dikolaborasikan dengan budaya pengobatan tradisional serta pengobatan modern,” jelas Fatih Falah. 

Karena itu, Waras Djampi menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan kesehatan yang kian merebak di Indonesia. Selain itu, ide tersebut mendukung poin SDGs (Sustainable Development Goals) 2030 poin ketiga, yaitu kesehatan yang baik dan mendorong kesejahteraan. 

Raih Best Performance  

Melalui proses yang panjang dan semangat yang gigih, mereka juga menjadi satu-satunya perwakilan UNAIR dalam kompetisi tersebut. Banyak pengalaman baru dan kerja keras yang mereka telah lakukan. Seperti membuat karya tulis, video presentasi, dan sesi Question and answering (QnA) di zoom meeting sehingga menghantarkan mereka meraih Best Performance. 

“Banyak pengalaman yang ngga akan kami lupakan. Karena dari lomba ini kita bisa akrab seperti keluarga, saling support, dan menyemangati satu sama lain. Kita berproses bersama dalam dunia kepenulisan dan pembuatan video presentasi ini,” ucap Fatih Falah. 

Meskipun sistem penilaian presentasi berdasar video, itu tidak menjadi penghalang bagi tim ini untuk berprestasi. Mereka terus menciptakan ide yang menarik dan indah agar bisa memenangkan kompetisi tersebut. 

“Ketika melihat sistem presentasi lombanya berdasar video, kami langsung kepikiran untuk take video di UNAIR. Sekaligus mem-branding UNAIR ke khalayak luas, termasuk di lomba kami kali ini. Kami memunculkan view gedung rektorat, danau UNAIR, dan area sekitar Kampus C,” tambahnya. 

Hadapi Segala Rintangan dan Tantangan 

Selama proses pengerjaan essai dan video presentasi tersebut, tim ini juga mendapatkan kendala dan rintangan yang harus mereka hadapi. Misalnya, rasa insecure terdapat diri sendiri. Namun, bagi mereka itu bukan menjadi penghambat untuk terus bergerak maju ke depan. 

“Rasa insecure itu pasti ada. Cuma aku dan timku berpikir kalau kita insecure terus dan ga mau coba untuk bangkit ya pasti kita ga akan berkembang. Kita akan terus stuck di rasa insecurity-an kita bisa membuat kita gak pede sama proses kita,” kata Fatih Falah. 

“Nikmati setiap proses dan memperdalam setiap ide kita. Hasilnya itu belakangan yang penting usaha dulu. Walaupun kalah maka besok diperbaiki dan coba lagi, tapi jika kita menang maka itu adalah bonus yang Tuhan berikan atas setiap usaha kita,” tutupnya. 

Penulis: Monika Astria Br Gultom 

Editor: Feri Fenoria 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *