FTMM Sukses Gelar Pengabdian Masyarakat Gandeng Mahasiswa dari 17 Negara

UNAIR NEWS – Berakhir sudah program pengabdian masyarakat bertajuk Sustainable Energy and Green Technology Applications Fall (SEGTA) 2022. Selama 6 hari, mulai Selasa (8/11) hingga Minggu (13/11), SEGTA Fall 2022 sukses memboyong 31 mahasiswa dari 17 negara, dengan sejumlah kegiatan baik di Kota Surabaya, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Probolinggo.

SEGTA Fall 2022 merupakan program Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga berkolaborasi dengan World University Association for Community Development (WUACD). SEGTA Fall 2022 berisi sejumlah kegiatan yang berfokus pada pelatihan dan pengabdian masyarakat dengan eksplorasi pengembangan teknologi hasil riset energi terbarukan. Program itu juga sevisi dengan perwujudkan program berkelanjutan SDGs, khususnya poin 7 (Affordable and Clean Energy), poin 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan poin 13 (Climate Action).

“Peserta mendapatkan pendidikan akademik dari pakar teknik dan energi, seperti solar hydroponic and technology support, Indonesia plants for green synthesis nanomaterial, natural aromatherapy mask filter,” ujar Prof Dr Retna Apsari MSi Wakil Dekan III FTMM.

Sabtu (13/11) peserta diajak ke Dusun Karangploso, Ngerong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan untuk melihat lebih dekat bagaimana aplikasi pengembangan teknologi hasil riset bernama ARSENIK  (Airlangga Sahabat Petani Hidroponik). ARSENIK merupakan platform piranti monitoring hidroponik berbasis IoT.

Menurut  Rizki Putra Prastio SSi MT Dosen Prodi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, ARSENIK bisa memantau konsentrasi nutrisi air, ph, kelembaban udara, dan suhu udara sekitar kapanpun dan dimanapun lewat ponsel petani. Tiap instalasi hidropnik juga mendapatkan energi yang disuplai dari instalasi solar panel.

“Dengan model kemitraan dan komunitas, pemanfaatan hidroponik berbasis IoT sejatinya dimulai seak 2021 lalu. Kemitraan tersebut menjadi lebih besar dan semakin kuat dengan dilanjutkannya pengabdian masyarakat lanjutan di tahun ini,” ungkap Rizki.

Dalam program itu, FTMM juga melakukan pemetaan kawasan menggunakan drone multispektral, dimana salah satu fungsinya adalah untuk mengetahui kondisi kesehatan tanaman. Cara kerjanya, kamera akan menangkap spektrum panjang gelombang yang diserap dan dipantulkan.

“Nantinya hasil pemetaan ini bisa untuk mengetahui bagian lahan mana yang perlu dikembangkan supaya tanaman sehat merata,” jelas Tio. (*)

Penulis : Andri Hariyanto

Editor: Binti Q. Masruroh


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *